Powered by Blogger.

Kisah Doa yang Dikabulkan

Dalam kitab al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mencatat beberapa riwayat tentang doa yang dikabulkan. Berikut beberapa riwayatnya untuk dijadikan pelajaran.

Riwayat yang pertama menceritakan Sayyidina ‘Uqbah bin Nafi’ yang sembuh dari kebutaan setelah diajarkan doa dalam mimpinya. Ia adalah kemenakan Sayyidina ‘Amr bin ‘Ash dan seorang jenderal yang bertugas sejak era Khalifah Umar bin Khattab sampai Daulah Umayyah. Lahir di Makkah tahun 1 H, dan wafat di Aljazair tahun 63 H. Berikut kisahnya:

وحكي عن الليث بن سعد أنه قال: رأيت عقبة بن نافع ضريرا ثمّ رأيته بصيرا، فقلت له: بم رد الله عليك بصرك؟ فقال: أتيت في المنام فقيل لي: قل يا قريب يا مجيب يا سميع الدعاء، يا لطيف لما يشاء، رُدّ عليَّ بصري، فقلتها فرد الله عليَّ بصري

Diceritakan dari al-Laits bin Sa’d, ia berkata: “Aku melihat ‘Uqbah bin Nafi’ dalam keadaan buta, kemudian aku melihatnya (sudah bisa) melihat (kembali).”

Aku bertanya kepadanya: “Dengan apa Allah mengembalikan penglihatanmu?”

Ia menjawab: “Aku bermimpi dan dikatakan kepadaku: ‘Ucapkanlah: Yâ qarîb, ya mujîb, ya samî’ad du’â, ya lathîf li mâ yasyâ’u, rudda ‘alayya basharî (wahai Tuhan yang Maha-Dekat, wahai yang Maha-Mengabulkan, wahai yang Maha-Mendengarkan doa, wahai yang Maha-Lembut atas apa-apa yang dikehendaki-Nya, kembalikanlah penglihatanku). Kemudian aku mengucapkan doa tersebut dan Allah mengembalikan penglihatanku.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 40-41)

Riwayat kedua menceritakan Imam Abdul Malik bin Habib al-Qurthubi (174-238 H), seorang ulama mazhab Maliki dari Cordova, Andalusia. Ketika itu ia sedang dalam perjalanan menggunakan perahu, dan air laut bergelombang sangat besar. Berikut riwayatnya:

وروي أبو محمد بن أبي زيد أن عبد الملك بن حبيب الذي يقال له: عالم الأندلس كان مستجابا، وأن البحر هاج بهم في اللجة، فقام فتوضأ ثمّ رفع يديه إلي السماء فقال: اللهم ماذا العذاب الذي أوتينا، وما هذه القدرة؟ اللهم إن كنت تعلم أن رحلتي هذه كانت لوجهك خالصا، ولإحياء سنن رسولك فاكشف عنا هذا الغم، وأرنا رحمتك كما أريتنا عذابك، فكشف الله عنهم بلطفه في الوقت

Diriwayatkan dari Abu Muhammad bin Abu Zaid bahwa Abdul Malik bin Habib, seorang ahli ilmu dari Andalusia, (pernah) dikabulkan doanya. (Ketika itu) terjadi ombak laut yang sangat besar. Kemudian Abdul Malik bin Habib berwudhu dan menengadahkan kedua tangannya ke langit. Ia berucap: “Ya Allah, azab apa ini yang ditimpakan kepada kami, dan qudrah (kehendak) apa ini? Ya Allah, kiranya Engkau tahu bahwa sesungguhnya perjalananku ini semata-mata untuk (mengharapkan ridha)-Mu, dan untuk menghidupkan sunnah Rasul-Mu, maka hilangkanlah kesusahan ini dari kami, dan perlihatkanlah rahmat-Mu kepada kami sebagaimana Engkau telah memperlihatkan azab-Mu.” Kemudian Allah menghilangkan kesusahan mereka seketika itu juga dengan kemaha-lembutan-Nya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, , 2002, h. 38-39)

Riwayat ketiga menceritakan mimpi Imam Ibnu Khuzaimah tentang Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri mazhab Hanbali. Imam Ibnu Khuzaimah (223-311 H) adalah seorang ahli hadits dan fiqih dari mazhab Syafi’i. Ia terkenal dengan kitab kumpulan haditsnya, Shahîh Ibnu Khuzaimah. Berikut riwayatnya:

وحكي عن ابن خزيمة أنه قال: لما مات أحمد بن حنبل كنت بالاسكندرية، فاغتممت، ورأيت أحمد بن حنبل في المنام وهو يتبختر، فقلت: يا أبا عبد الله؟ أي مشية هذه؟
فقال مشية الخدام في دار السلام، قلت: ما فعل الله بك؟ قال: غفر لي، وتوجني، وألبسني نعلين من ذهب، وقال: يا أحمد، هذا بقولك القرآن كلامي، ثم قال: يا أحمد ادعني بتلك الدعوات التي بلغتك عن سفيان الثوري وكنت تدعو بها في دار الدنيا
فقلت: يا رب كل شيء بقدرتك علي كل شيء، اغفر لي كل شيء ولا تسألني عن شيء، فقال: يا أحمد هذه الجنة فادخلها، فدخلتها

Diceritakan dari Ibnu Khuzaimah, ia berkata: Ketika Ahmad bin Hanbal meninggal, aku sedang berada di Iskandariah, aku pun bersedih. Lalu aku melihat Ahmad bin Hanbal dalam mimpi, ia berjalan dengan gaya yang menawan. Aku pun bertanya: “Wahai Abu Abdillah, jalan macam apa ini?”

Ahmad bin Hanbal menjawab: “Jalannya para pelayan di rumah keselamatan.”

Aku bertanya lagi: “Apa yang diperbuat Allah kepadamu?”

Ia menjawab: “Allah telah mengampuniku, memahkotaiku, dan memakaikan kepadaku dua sandal dari emas.” Dia berfirman: “Wahai Ahmad, (anugerahKu) ini karena perkataanmu bahwa Al-Qur’an adalah kalam-Ku,” kemudian Allah berfirman lagi: “Wahai Ahmad, berdoalah kepada-Ku dengan doa yang telah disampaikan Sufyan al-Tsauri kepadamu.” Aku pun berdoa dengan doa-doa tersebut di kehidupan dunia (ketika aku masih hidup). Aku berdoa:

“Yâ rabbi kulli syai’in, bi qudratika ‘alâ kulli syai’in, ighfir lî kella syai’in wa lâ tas’alanî ‘an syai’in (Wahai Tuhan segala sesuatu, dengan kuasa-Mu atas segala sesuatu, ampunilah aku (dari) segala sesuatu (dosa dan kesalahan), dan jangan Kau tanyakan sesuatu pun kepadaku.”

Lalu Allah berfirman: “Wahai Ahmad, surga ini, masuklah kau ke dalamnya, maka aku pun memasukinya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, , 2002, h. 41)

Tiga riwayat di atas menunjukkan bahwa doa harus diperankan dalam kehidupan kita. Karena doa tidak sekadar bentuk formal untuk memohon sesuatu kepada Allah, tapi juga bentuk pengakuan akan kelemahan kita sebagai manusia sekaligus pengakuan akan kemaha-kuasaan Allah sebagai Tuhan semesta alam. Dengan berdoa, kita bisa merendahkan kesombongan kita, dan perlahan-lahan membangun kesadaran kita, bahwa sebaik apa pun usaha manusia, akan bertambah kebaikannya dengan memasrahkan sepenuhnya kepada Allah. Sebagai penutup, kita perlu renungkan kalimat panjang berikut ini:

قال سلفنا رضوان الله عليهم: ما من أحد إلا ويريدك لنفسه، فصدّيقك يريدك للاستمتاع بحديثك والانتفاع بك، والأب يريدك لراحة يجدها بقربك، وكشف غمة تلحقه عندك، وأستاذك ومعلمك يريدك لينتفغ بك في الآخرة لثواب ما علمك، ولذة يجدها في الدنيا بتخريجك من ظلمات الجهل إلي أنوار المعرفة
وعلي هذا النمط يجري مراد الخلائق بينهم، إلا الله سبحانه، فإنه يريدك (ليغفر لك) قال الله سبحانه: (يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ)
وقال سبحانه: (فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَٰكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ) وهذا استعطاف للخلق في الدعاء

“Para ulama salaf kita, semoga Allah meridhai mereka, berkata: ‘Tiada seorang pun yang menginginkan (sesuatu) untukmu kecuali untuk dirinya sendiri. Temanmu menginginkanmu menjadi pendengar obrolannya dan ingin mengambil manfaat darimu. Seorang ayah menginginkanmu karena kesenangan yang ditemukannya dengan berada di dekatmu dan ingin (merasakan nikmatnya) melenyapkan kesusahan yang menimpamu. Guru dan pengajarmu, menginginkanmu agar mendapat manfaat darimu di akhirat (kelak) karena pahala mengajarimu dan ingin merasakan kesenangan di dunia dengan (rasa nikmatnya keberhasilan) mengeluarkanmu dari gelapnya kebodohan menuju cahaya pengetahuan.

Dan pola inilah yang berlaku (dalam pergaulan) di antara sesama manusia. Berbeda halnya dengan Allah Swt., yang menginginkanmu (agar Dia mengampunimu). Allah berfirman (QS. Ibrahim: 10): “Dia menyeru kalian agar Dia mengampuni kalian.”

Allah berfirman (QS. Al-An’am: 43): “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitan pun menjadikan indah apa yang selalu mereka kerjakan.” Ayat ini menunjukkan permintaan kepada makhluk (manusia) untuk berdoa.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 13-14)

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

Serius Belajar dan Bekerja

Suatu malam di sebuah pulau terpencil. Farel tertidur pulas di kasur empuk dalam sebuah kamar peninggalan Belanda. Viki, temannya merasa aneh padanya, 'jauh-jauh kesini cuma ingin tidur, apa tidak takut dengan hantu Belanda di kamar.'

Viki menuju teras villa, duduk bersama dua lelaki disitu. Satu pribumi, satu lagi non-pribumi. Viki pelan-pelan mulai masuk ke pembicaraan mereka. "Ia pak, nyaman sekali disini".

"Warga disini sehari-hari turun ke laut. Pulang pagi atau siang. Saya setiap malam mancing, kadang-kadang sampai dua hari dua malam di laut."
"Mancing dua hari dua malam di laut, pak?"
"Iya, nanti kalau kamu mau coba, boleh kapan-kapan kesini lagi"
"Enak sekali (red: seru banget) ya pak"
"Kalau saya tidak seperti ini, tidak ada rezeki, tidak bisa beri biaya sekolah anak." Sekita raut wajahnya berubah.

Viki terdiam, ucapan terakhirnya salah. Kini ia hanya termenung. Sambil melihat tangan bapak tersebut yang sedang mengikat kail pancingnya.

Pesan : Serius lah dalam belajar. Kurangi main-main, sesekali renungi dan resapi, bagaimana orang tua mencari nafkah untukmu.

Hujan Petang Itu Nikmat

Kisah Inspiratif - Viki sedang berdiri tegak menunggu antrian di dapur umum sebuah Pesantren. Kini, tahun ketiga ia berada dalam pekarangan ini, yang orang-orang menyebutnya ‘Penjara Suci’. Namun tidak bagi Viki, menurutnya ini istana. Tak tahu kenapa? Ia sangat mencintai suasananya, lingkungannya, dan segala hal. Viki menyodorkan piring ke lubang berukuran persegi dengan panjang satu meter dan tinggi tigapuluh sentimeter, tepat di depan petugas dapur yang sedang membagikan menu makan siang.

“Vik, tunggu ya!” terdengar suara teriakan dari belakang, kala ia ingin beranjak pergi. Viki segera menoleh kebelakang, mencari asal suara. “Oh Afdhal, Oke”. Afdhal adalah teman akrab Viki. Mereka tinggal satu kamar selama dua tahun. Di kelas tiga ini, mereka tidak lagi sekamar, namun masih satu kelas pada jam sekolah formal.

Viki menunggu Afdhal sambil duduk di sebuah bangku yang menghadap ke Mushalla. Jarak antara Mushalla dengan dapur sekitar duapuluh langkah. Setidaknya aktivitas dalam Mushalla dapat diketahui oleh orang-orang yang berada di bagian depan dapur umum. Begitu pula sebaliknya, orang di dalam Mushalla dapat mencium aroma masakan yang sedang diracik oleh para koki. Hal ini menjadi godaan tersendiri bagi Jamaah shalat, terumat ketika shalat Dhuhur. Bisa-bisa, aroma masakan membuat shalat para jamaah terganggu, dan ingin cepat-cepat menyantapnya.

Namun tidak dengan seorang lelaki. Ia selalu duduk di bagian tengah Mushalla, ketika jamaah yang lain mulai keluar. Memegang Mushaf dengan kedua tangannya. Bibirnya terlihat komat-kamit begitu cepat. Badannya goyang kedepan lalu kebelakang, seperti burung yang sedang mematuk. Sesekali ia memejamkan matanya, dan kadang-kadang mushafnya ia tempelkan ke jidadnya. Itulah pemandangan yang dilihat oleh Viki dan Afdhal ketika berjalan melewati sisi depan Mushalla menuju ke asrama Ibnu Sina.

Asrama Ibnu sina berada di sisi kiri Mushalla. Sama halnya dengan dapur. Sama-sama dekat, dan sama-sama dapat mendeteksi aktivitas di dalamnya. Viki tinggal di kamar sebelas di lantai dua, bertetangga dengan Afdhal. Dari depan kamarnya, Ia dapat melihat orang-orang di Mushalla. Dan lagi-lagi selesai makan dan hendak mencuci piring, ia masih melihat santri itu sibuk dengan Mushaf. Selesai mencuci piring di kamar mandi, ia juga masih melihatnya. Namun kali ini posisinya telah berubah. Lelaki itu sedang berdiri. Tangannya terlipat di bagian dadanya. ‘Dia mengulang hafalan al-Quran dalam shalatnya’, Viki menerka-nerka.

“Vik, sudah ada hafalan untuk malam ini?” Pertanyaan Afdhal mengejukkan Viki yang tadi melamun, ketika memandang dalam-dalam lelaki tersebut, kakak kelasnya.
“Baru setengah halaman, nanti sore sambung lagi” jawabnya. Ia diam sejenak. “Dhal, lihatlah akhi Anis di Mushalla! Dari tadi dia tidak bergeser dari posisinya.”

“Ia, setiap hari seperti itu, dia sering muraja’ah al-Quran dalam Shalat Sunnah, jadi Shalat Sunnahnya itu sampai sejam lamanya.” Afdhal menjelaskan dengan detail, seakan sudah sangat mengenalnya. “Aku dengar, akhi Anis akan ujian 30 Juz malam selasa ini dengan Ustadz Yusuf”
“Wah, sudah khatam?”
“Iya, kau tidak tahu, Vik?!”
Viki menggeleng.
“Sudah setahun aku melihat aktivitas rutinnya. Setiap siang. Bahkan aku heran, apa dia tidak makan siang?” ucap Afdhal
“Aku ingin seperti dia, Dhal”
“Aku juga, tapi . . .”
“Tidak ada tapi-tapi,” Viki memotong ucapan Afdhal. “Harus Dhal, Harus!”

***

Hujan petang itu baru saja reda. Angin menghembuskan rintikan-rintikan halusnya hingga menyebar di udara. Sesekali tetesan itu hinggap di dedaunan, di pagar, dinding, bahkan berlabuh di pori-pori kulit manusia. Kebetulan manusia itu adalah Afdhal. “Cuacanya dingin sekali, Vik” ucapnya sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Mereka baru saja keluar dari Masjid usai melaksanakan Shalat Maghrib, lalu menuju ke kelas.

Para santri sudah berkumpul di kelas. Jumlah mereka duapuluh orang. Semuanya sibuk dengan hafalannya masing-masing. Sebagian saling berhadapan, memperdengarkan hafalannya ke teman, sebelum pada akhirnya mereka perdengarkan ke Ustadz.

Lama mereka menunggu, ustadz tak kunjung datang. Mereka terus menunggu, tak juga muncul. Sampai azan Isya berkumandang, barulah datang seseorang dengan muka yang sedikit lesu, - ‘Akhi Anis’ batin Viki berkata – lalu mengabarkan bahwa ustadz tidak dapat hadir. Karena kecelakaan. “Innalillahi” serentak para santri mengucapkannya.

“Sekarang kalian sudah boleh pulang” lanjut Anis kepada para santri.
“Sekarang ustadz Yusuf dimana, khi?” tanya Afdhal.
“Beliau sedang di Rumah Sakit, di Kota. Sebentar lagi ustadz-ustadz dan beberapa senior akan kesana. Kalian bantu dengan doa saja ya”
“Baik, Akhi” kata Afdhal.

Sejak malam itu, kelas tahfidz mereka dinon-aktifkan. Kecelakaan yang menimpa ustadz Yusuf membuat beliau harus beristirahat selama dua bulan di kampung halamannya. Sungguh kabar ini membuat Viki dan teman-temannya bersedih. Pertama, karena ini adalah musibah, dan kedua, ini artinya hafalan mereka untuk sementara berjalan ditempat.

Kelas tahfidz biasanya digelar seminggu tiga kali, selasa, kamis, dan sabtu. Sekarang, tiga malam itu mereka libur. Hingga, hari berselang hari semangat menghafal mereka menurun. Karena kata orang, sesuatu kebiasaan, jika mulai ditinggalkan, lama-lama akan hilang kebiasaan itu. Bahkan hafalan yang telah ada bisa hilang.

“Dhal, Akhi Anis sudah ujian?” Tanya Viki pada Aris yang sedang membaca Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wick.
“Sepertinya belum, kan ustadz Yusuf masih belum sehat.”
“Hmm, ,” Seperti ada suatu hal yang terbesit di hati Viki saat itu. “Kamu sudah ada tambahan berapa lembar selama sebulan ini?”
“Tidak ada, Vik”
“Lah, kok bisa?” Viki heran.
“Faktor keadaan, jadi kurang semangat gitu”
“Semangat itu dicari, jangan di tunggu, Dhal. Ini, asyik saja baca Novel!” cetus Viki sambil meninggalkannya.
“Vik, kamu mau kemana?”
“Ke Mushalla, mau menghafal.”

Viki terus melangkahkan kaki menuruni tangga, menyusuri tanah yang tak berumput, jalan setapak dari asramanya ke Mushalla. Jam dinding Mushalla sudah menunjukkan pukul 21:00. Ia duduk tepat di posisi duduknya akhi Anis menghafal dan murajaah al-Quran. “Bismillah, Ya Allah, mudahkanlah aku untuk Istiqamah dalam menghafal al-Quran. Amiin.”

Viki melanjutkan hafalan juz empatnya. Membaca berkali-kali. Lalu menghafal baris demi baris, ayat demi ayat. Sangat fokus. Baru kali ini dia begitu fokus. Dan Alhamdulillah dalam setengah jam dia sudah menghafal satu halaman. Ini adalah pencapaiannya yang luar biasa dari yang sudah-sudah.

Lalu ia berfikir. ‘Jika satu halaman dapat menghafalnya dalam setengah jam. Berarti dalam 5 jam bisa 10 halaman. Setengah Juz?’ dia terus menghitung, sambil merencanakan target hariannya. Ketika jam menunjukkan pukul 22:00 ia pun kembali ke kamar untuk beristirahat.

Ia menyimpan Mushafnya lalu berbaring di atas kasur. Menutup mata, membaca doa. Suasana gelap, sunyi. Tapi tidak dengan pikirannya, hatinya. Ia masih mengingat target hariannya yang akan ia mulai besok. InsyaAllah dia akan menghafal sehari lima jam dan jika tercapai target, berarti sehari dia bisa menghafal setengah Juz.

“Qum, qum, qum” teriak temannya membangunkan personil yang lain. Viki tidak tahu, apakah dia tidur atau tidak? Begitu bersemangatnya, sampai-sampai dia tidak sadar. Ia segera bangun, bersiap-siap ke Mushalla untuk shalat Fajar, lalu shalat Subuh. Teman yang lainnya juga berbondong-bondong pergi ke Mushalla.

Wajah Viki masih terlihat bahagia, dia menggenggam erat Mushafnya. ‘Aku akan memulainya’ lagi-lagi pikirannya berbicara. Namun bukan hanya kata-kata tanpa bukti. Ia langsung mengimplemetasikan rencananya. Ketika orang-orang mulai meninggalkan Mushalla, dia menyempatkan diri 10 menit untuk menghafal, baru setelah itu bersiap-siap ke Sekolah. Saat istirahat begitu juga, usai shalat Dhuha, dia sempatkan 5 menit untuk menghafal. Siang harinya tak kurang, ia beri waktu untuk menghafal satu jam setengah. Sore. Malam. Terus begitu. Lima jam sehari. Aktivitasnya berubah drastis. Dan itu bukan hanya dia yang merasakannya. Bahkan teman-temannya juga, terutama Afdhal.

Afdhal kini melihat Viki sering di Mushalla. Ketika yang lain sedang berada di dapur, Ia di Mushalla. Ketika yang lain sedang berolahraga, ia di Mushalla. Detik berselang detik, hari berlanjut hari, rutinitasnya tetap sama. Lima jam bersama al-Quran.

Pada suatu sore, usai shalat Ashar. Afdhal menyapa Viki yang sedang asyik bersama al-Quran. Sore itu genap dua kelas tahfidz mereka libur. Dalam dua bulan itu pula, Viki sibuk dengan rutinitas barunya. Semenjak itu afdhal sudah jarang bertemu Viki di luar kelas. Dan ini adalah kesempatan yang bagus untuk Afdhal bertama. Selama ini Afdhal dan teman-temannya bertanya-tanya jumlah Juz yang sudah Viki hafal.

“Hari ini sudah berapa lembar kamu hafal, Vik?”
“Dari pagi?”
“Yup, 6 halaman, Alhamdulillah”
“Serius?! Cepat sekali kamu hafalnya, sekarang sudah Juz berapa?”
“Sudah Juz 26, Vik”
“Haah! Juz 26?!” lagi-lagi Afdhal terkejut, “Lancar?”
“Hafalan baru lancar, kalau hafalan kemarin lusa, tidak begitu lancar”

Afdhal masih kaget. Raut wajahnya tak biasa. “Aku tes boleh?” pinta Afdhal. “Boleh, Hafalan yang baru ya, Juz 23 sampai 26.” Afdhal merebut Mushaf dari tangan Viki, membukanya acak, lalu membacakan potongan ayat. Langsung saja Viki menyambung bacaan tersebut. Satu kali, berhasil ia jawab. Pertanyaan kedua dan ketiga juga bisa dijawab. Raut wajah Afdhal mulai mekar, salut dengan pencapaian temannya. “Bagaimana kau melakukannya ini?”

“Istiqamah kuncinya.” Viki senyum. “Bagaimana kabar ustadz Yusuf?” sambungnya.
“Kata akhi Anis, sudah mulai membaik. Dua minggu lagi insyaAllah sudah bisa mengajar lagi.”
“Alhamdulillah”

***
Viki, Afdhal, dan para santri yang lain telah berkumpul di dalam kelas. Berhubung ustadz Yusuf telah pulih, kelas tahfidz kembali aktif. Beberapa menit kemudian, masuklah Ustadz ke kelas. Ustadz Yusuf memulai kelas dengan bincang-bincang santai, setelah beberapa menit, perbincangan pun sampai ke inti, “Ada penambahan berapa Juz selama libur ini?” Semuanya terdiam, menunduk kaku. “Alhamdulillah ada yang khatam Ustadz.” Sahut salah seorang santri, yang juga mengetahui kabar bahwa Viki telah menyelesaikan hafalannya.

“Siapa?”
“Viki, Ustadz”
“Mana Viki?” Ustadz melirik ke kiri lalu ke kanan.
Viki mengangkat tangan, “Hadir, Ustadz”
“Baik, besok pagi setelah Subuh, jumpai saya di rumah ya.”
“Baik, Ustadz.” Viki mengangguk.

Tujuan ustadz memanggil Viki. Ingin memastikan apakah benar ia telah menyelesaikan hafalannya? Selesai Shalat Subuh, Viki langsung ke rumah Ustadz Yusuf. Sampai di sana, Ustadz bertanya beberapa soal kepada Viki, namun jawabannya banyak yang salah. Wajar saja, ia belum murajaah secara sempurna. Lalu Ustadz memintanya dalam sebulan ini menyetor hafalan kepada Beliau. Dan bulan depan akan ujian sekalian dengan Anis.

Mendengar berita ini. Viki jadi terharu. Ia tak pernah membayangkan akan ujian berbarengan dengan sosok yang secara tidak langsung telah memotivasinya untuk tekun dalam menghafal. Ia langsung mengabari Afdhal, yang sedang berada di depan kamarnya di lantai dua. “Afdhal, kamu masih ingat? Ketika aku mengatakan ‘Aku ingin seperti dia (akhi Anis),’ tepat di sini. Iya. Disini. Sungguh kata-kata itu terwujud. Ustadz Yusuf memintaku muraja’ah hafalan dengan baik dan bulan depan akan ujian bareng dengan akhi Anis”
“Benarkah? MasyaAllah. Semoga aku bisa mengikuti jejakmu, kawan.”
“Tentu bisa” jawab Viki sambil tersenyum.

Viki teringat satu pesan kala itu. Sebuah hadits. ‘Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih patut, agar kamu tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.’ Hadits yang ia pelajari di kelas satu dulu begitu membekas di benaknya. Gurunya pernah menjelaskan, “Kita jangan melihat ke atas terhadap nikmat lebih berupa materi yang orang lain dapatkan, terhadap harta banyak yang dimiliki oleh orang. Namun dalam segi ilmu, dan segi keta’atan, kita dianjurkan untuk melihat ke atas, sehingga dapat memotivasi diri untuk menjadi ‘alim seperti dia, shalih seperti dia. Atau menjadi lebih baik dari orang tersebut.”

 

Getaran Cinta

Oleh : Raystaycool 
Jam 11:30 Cairo local time (Clt), “Nilai sudah ditempel di papan pengumuman lantai 2” pesan dari grup WA. Jantung Viki seketika berdetak kencang, ia langsung beranjak dari kasurnya. Sudah lebih dua minggu ia selalu mengecek WA tiap bangun dari tidur pagi. ‘Akhirnya penantian inipun berakhir’ gumamnya.

Viki menghidupkan lampu kamarnya, lalu bersiap-siap. Ia hanya berwhuduk, lalu berangkat. Lantunan doa dan harapan terus bergema di jiwanya. Dengan itu membuat hatinya tenang. Ia terus melangkah perlahan, menebar senyum kepada orang-orang yang ia temui.

Metro siang itu terlihat sepi, ia memilih gerbong tengah kereta dan duduk di sudut kiri dengan nyaman. Ia membuka galeri smartphonenya. Melihat foto-foto keluarga yang tersimpan. Keluarga yang telah tiada. Yang tak tau kemana harus merindu. Hanya abangnya yang tersisa di dunia. Yang tak perlu dirindukan. Mungkin.

Ia menyusuri trotoar tempat pejalan kaki dengan langkah yang teratur, melihat ke arah depan, sambil bertanya-tanya, apakah mobil itu kosong? Ia percepat langkahnya menuju salah satu mobil yang berhenti di depannya, ketika supir memberi isyarat mobilnya kosong. Viki naik, lalu berdoa. Mobil melaju dengan cepat.

“Ala ghambek yashta (minggir)” teriak viki kepada supir. Butuh 45 menit perjalanan dari rumah ke kampus. 40 menit naik Metro. 5 menit naik mobil. Kini gerbang kampus terbuka lebar untuknya, Viki melangkah masuk menyapa satpam. Hanya senyuman yang ia punya detik itu. Berikutnya entahlah.

Sekarang di depannya terpampang selembar kertas pengumuman. Penentuan ia tetap di Cairo atau pulang kampung. Ia mengecek dengan teliti. Namanya tidak ada. Ia mengecek ulang, namun masih belum ada. Dan lagi, tak ada juga. Viki segera menelepon temannya yang juga ikut tes S2.

“. . . . teman, selamat ya, kamu lulus sedangkan aku tidak. Hari ini juga aku akan memesan tiket pulang ke Aceh. Kamu dimana?”
“Aku di Masjid al-Azhar. Kemarilah dulu, Aku tunggu!”
Viki dengan berat hati meninggalkan selembar kertas pengumuman. Bertanya-tanya, ‘Mengapa aku tidak lulus ?’

Masjid al-Azhar berada tepat di samping Kampus, sekitar 100 meter berjalan kali menelusuri trotoar jalan utama. Setelah memperbaharui wudhuknya, Ia melangkah masuk ke Masjid, matanya menoleh ke seluruh penjuru mencari posisi temannya. “Assalamu’alaikum” ucap Viki. Ia merebut tangan temannya, bersalaman, sambil mengambil posisi duduk yang nyaman.

“Vik, bagaimana kabarmu?”
“Sehat, Kamu bagaimana Fatih?”
“Tidak penting bagaimana kabarku. Kamu serius ingin pulang?”
“Iya”
“Kamu sudah mengkhatamkan al-Quran?”

Hati Viki terkejut, pertanyaan itu mengingatkan hal yang nyaris ia lupakan “Belum”
“Dengarkan aku. Dua tahun yang lalu. Tepat disini, di posisi sekarang kita duduk ini. Kamu mengatakan, ‘ber’azam tidak akan pulang sebelum mengkhatamkan hafalan al-Quran. Apa kau lupa? Tidak lulus untuk melanjutkan S2 bukan berarti kau harus pulang. Banyak sekali hal yang dapat kamu lakukan di sini sambil menyelesaikan hafalanmu. Selesaikanlah Vik!”

Viki termenung sesaat “Bismillah, detik ini aku urungkan niatku untuk pulang”
Fatih hanya tersenyum sambil dibarengi dengan lantunan azan Ashar yang merdu. Mereka beranjak menuju shaff depan untuk menunaikan panggilan mulia ini.

Usai Shalat, mereka berpisah melanjutkan aktivitas masing-masing. Pertemuan ini sedikit mendamaikan hati Viki. Secercah cahaya kembali terang, yang tadinya hampir padam ditelan asa. Sekarang Viki ingin pulang, bukan pulang kampung, melainkan ke rumahnya yang berada di Mathariyah. Ia melambaikan tangannya ke seorang supir angkutan umum. Mobilnya berhenti dengan kasar di depannya. ‘Dasar! Apa susahnya sedikit lebih santun’ ucap hatinya. Ia melangkah masuk, menutup pintu, duduk, lalu tidur.

Viki terbangun dengan suara alamr yang melengking di samping telinganya. “Astaghfirullah,,” ‘ternyata hanya mimpi,’ ucap batinnya. Lalu ia mengingat lagi mimpinya, sekali, dua kali, dan bertanya-tanya, “apa maksud mimpi ini?”.

***

Viki duduk di bangku kantin berwarna abu-abu, ia dihadapkan dengan meja yang cukup untuk menyandarkan lurus tangannya. Meja berwarna maron cocok dengan jubah yang ia kenakan. Ia menikmati suasana sore di Pesantren. Para santri baru saja pulang dari Masjid setelah melaksankan Shalat Ashar, berdzikir dan membaca al-Quran. Ia memperhatikan setiap kelakuan mereka. Bagaikan seorang psikolog memperhatikan pasiennya. Sesekali menerka apa yang dipikirkan santri yang sedang melangkah di sampingnya. Menebak apa yang sedang mereka bicarakan. Memahami bahasa tubuh santri yang berdiri di depan asramanya.

Lama Viki berada di situ, terus termenung. Merasakan hembusan angin sejuk. Mengingat kembali mimpinya semalam. Mimpi yang dahsyat. Malam yang menakjubkan. Memberikan keputusan yang fantastis dalam hidupnya.

“Reza, . .” sapa Viki ke temannya yang lewat.
“Hei Syeikh, ngapain di situ” Reza menuju ke arah Viki segera. Kakinya seperti bergerak sendiri tanpa ada yang memintanya. “Bagaimana Syeikh,?”
“Jawaban Zahara tidak, Reza. Aku sudah ke rumahnya”
“Serius!? Kapan? Apa alasan dia menolak?” Reza terkejut.

“Lupakan saja, untuk beberapa saat ini aku tidak ingin membicarakan itu.” suasana hening sesaat, “Dua minggu terasa begitu panjang bagiku, sepertinya aku harus melanjutkan S3 untuk menenangkan diri” lagi-lagi sunyi, Viki melanjutkan, “Reza, kamu tahu kenapa aku pulang, dan tidak melanjutkan S2 di al-Azhar?”

“Tidak, memangnya kenapa?”
“Ketika itu aku sakit, dan aku harus pulang untuk istirahat. Padahal saat itu aku telah lulus tes melanjutkan pasca sarjana pada jurusan Fikih Muqaran.”
“Sakit apa?”
“Lupakan juga sakitnya.” Reza mengangguk-anggukkan kepala seraya menunggu lanjutan cerita Viki.
“Dan semalam aku bermimpi tentang itu, namun dalam versi yang berbeda. Mimpi itu seakan memanggilku untuk melanjutkan S3 ke Timur Tengah lagi. Padahal ini sama sekali belum terpikirkan sebelumnya. Bangun dari mimpi itu, kepalaku seperti mencari-cari negara mana yang akan ku tuju. Setelah aku shalat, dan bermunajat, jawabannya adalah Sudan”

“Secepat itu kau dapatkan jawabannya?” Reza tersenyum.
“Iya, bahkan aku langsung menghubungi temanku di sana, tanya tentang adminitrasi apa yang harus dilengkapi untuk S3. Dan kebetulan ini sedang masa pendaftaran katanya.”
“Lalu kapan kamu berangkat?”
“InsyaAllah bulan depan.”
“Hah, serius?”
“Iya, jangan terkejut seperti itulah” Viki tertawa.

Hari-hari berjalan normal beberapa hari kedepan. Viki terus melengkapi berkas-berkas untuk pendaftaran S3. Mengurus Visa dan membeli tiket. Di sekolah juga dia masih tetap mengajar. Hingga tibalah hari keberangkatannya.

Di bandara kini telah hadir, keluarganya; abang kandung, paman, tante dan kakeknya. Beberapa teman Viki juga ikut mengantar. “Reza, Aku berangkat dulu ya.” Ucap Viki datar. “Vik, Aku curiga, niatmu pasti ingin menyusul Zahara kan?” Reza berbisik di telinganya. Viki membalasnya dengan senyum “Kau salah tempat bertanya, Za. Tenang, aku akan menghubungimu.”

Viki pamit sambil menyalami keluarga besarnya. Juga teman-temannya. Lalu melangkah perlahan masuk ke dalam.

***

Kota Khartoum terasa dingin malam itu. Sebelum ke sini, Viki telah mendengar perkataan-perkataan orang bahwa di Sudan cuma ada dua musim. Musim panas. Dan musim panas sekali. Ternyata tidak, ia harus memakai jaket tebal sore itu. Menapaki trotoar jalan keluar dari gerbang Omdurman Islamic University, kampus yang baru satu bulan dijajakinya.

Viki masih ingin memanjakan matanya dengan suasana malam Kota Karthoum. Sore ini ia ditemani teman seperjuangan di Cairo dulu, Aulia. Setelah Shalat Maghrib mereka menuju ke Kak Fried Chicken untuk makan malam. Sebelum keluar mereka meminta pelayan untuk membungkus empat porsi hendak di bawa pula. Mereka merencakan sesuatu malam itu.

Sekarang mereka menuju ke al-Ma’mora. Dengan teliti mereka mencari tempat yang ingin dituju. Dan ketemu. “Assalamu’alaikum” ucap Aulia di Hpnya. Ia menghubungi teman yang berada di flat yang berada tepat di depannya.

“Wa’alaikumussalam.” Jawaban seberang, sedikit kaget.
“Na di rumoh? Lon di likeu rumoh nyoe.”
“Pu na hai bg?”
“Jeut neu tubit siat. Na hai perle bacut. Kamoe preh beh.”

Setelah beberapa menit tampaklah dua sosok berkerudung keluar dari flatnya. Dengan raut penasaran mereka menuju ke arah Aulia. “Nisa, nyoe na makanan bacut dari kamoe, tulong neu jok keu Zahara. Neu peugah mantong dari bang Viki.”

Nisa adalah anggota Keluarga Mahasiswa Aceh bagian Keputrian, yang telah lama mengenal Aulia karena satu Organisasi di KMA. “Soe bang Viki nyan?”
“Bek le that teumanyoeng hai, neu peusampo mantong ile” Aulia tertawa kecil.
“Alahai dren, get nyoe meunan. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam”

Viki yang tadi agak sedikit kebelakang menyusul Aulia. “Bagaimana?”
“Oke” jawabnya. Mereka pun pulang ke peraduannya.

Baru saja sampai di rumah. Viki menerima pesan di Instagram. “Ustadz, antum sedang di mana?” Viki membacanya berulang-ulang. “Ini sedang di Kharthoum.” Jawabnya singkat.

“Terima kasih makanannya ya. Ustadz pergi ziarah atau agenda apa ke Sudan?”
“Siiip, Ustadz lanjut S3 di Omdurman.” Jawaban Viki masih singkat.
“Ya Allaaah. Ustadz sudah lama di sini? Kenapa tidak kabari Zahara?”

Viki tidak tahu ingin membalas apa. Pesan itu dia abaikan. Lalu Viki merebahkan badannya di kasur lalu memejamkan mata. Baru saja ia memasuki alam mimpi hpnya berbunyi. Ruhnya segera kembali ke jasad dengan penuh keterpaksaan. “Assalamu’alaikum, ustadz” suara Zahara mengalahkan rasa kantuk Viki seketika.
“Wa’alaikumussalam, kamu apa kabar?”
“Baik, Ustadz bagaimana?”
“Alhamdulillah. Bagaimana di Sudan?”
“Bagaimana apanya? Ustadz ni, sudah berapa lama disini, kenapa tidak kabari Zahara?”
“Ada banyak cara untuk mengabari sesuatu” Viki tersenyum dengan kalimatnya sendiri. “Sudah sebulan. Gimana urusan kuliah kamu?”
“Lancar, Alhamdulillah.” Zahara tak tahu ingin berkata apa. Yang ia rasakan hanya rindu. Rindu yang sulit didefinisikan. Sesulit mendefinisikan cinta.
“Hmm, sudah dulu ya. InsyaAllah kita bertemu lain waktu. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam” jawab Zahara lembut.

Viki tertidur pulas malam itu. Ia terbangun pukul 4 dengan suara alarm populernya, lagu The Night – Avicii. Sudah dua tahun ia menggunakan lagu itu sebagai alarm. Teman-temannya yang merasa terganggu dengan lagu alarmnya, heran dan bertanya kepadanya, ‘Aku sudah mencoba dengan nada yang lain, namun tidak berhasil. Cuma ini yang berhasil.’ Itu jawabannya. Sedikit masuk akal. Hanya sedikit, tak lebih. 

Aktivitas hariannya masih berputar seperti biasa, membaca, muraja’ah dan menulis. Ke Kampus dan Pustaka. Sesekali menikmati pemandangan sungai Nil dari depan Universitas Khartoum. Namun mulai minggu ini ada hal baru yang masuk dalam agendanya. Dalam sebulan sekali, ia Mengunjungi rumah Zahara. Iya. Rumahnya.

Bulan selanjutnya, masih di temani Aulia. Viki mengantarkan makanan yang berbeda ke rumah Zahara. Kali ini Viki langsung yang menunggu di pintu gerbang apartemen. Begitu pula Zahara. Ia bersama kakak kelasnya, berdua menemui Viki yang menunggu di gerbang. “Ustadz, tidak usah repot-repot.”
“Jangan panggil ustadz lagi donk, Ana bukan guru disini.” Ucap Viki dengan nada bercanda.
“Terus bagaimana?”
“Terserah Zahara saja, ini ambil” Viki menyerahkan bungkusan di tangannya kepada Zahara. “Kita sesama orang Aceh di rantau harus saling berbagi jika ada kemudahan, koen meunan kak?” tanya Viki pada Nisa yang berada dua langkah di belakang Zahara. Tanpa menunggu jawaban dari belakang. Viki pun pamit.

Bulan-bulan berikutnya sama, banyak hal yang Viki hadiahkan kepada Zahara. Hingga pada suatu malam, Viki mengantar hadiah spesial untuk Zahara, di hari ulang tahunnya. Mengetahui itu, Zahara sejenak membisu, “Ustadz, maksud hadiah ini apa?”. Viki hanya tersenyum “Dengan menerimanya, kamu telah menolongku.”

Malam itu, Zahara merasa tak nyaman diperlakukan demikian. Ia mengutarakan semuanya kepada kak Nisa. “Bagaimana ini kak? Nisa jadi tidak enak” “Jawaban kamu gimana?” tanya kak Nisa. “Maksud kakak?” “Sekarang, Kamu sudah bisa menerima bang Viki?” Zahara berfikir sebelum menjawabnya, “Zahara masih belum bisa jawab kak.”

Bulan-bulan terus berlalu, hanya saja berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya. Kini tak ada lagi sosok yang menanti Zahara di pintu gerbang setiap pertengahan bulan. Seakan-akan agenda Viki mengunjungi Zahara sebulan sekali telah terhapus dalam plan-nya. Zahara merasakan keganjilan ini, bertanya-tanya dalam hatinya ‘bang Viki dimana?’

Di sudut yang lain, Viki dengan tiga temannya sedang duduk di sebuah Kafe. Mereka bercengkrama santai. Disela-sela itu, Aulia berkata, “Vik, aku boleh tanya?” “Silahkan” “Kenapa mesti Zahara?” Viki terdiam. Ia heran, kenapa temannya bertanya demikian. “Aulia, maaf! Kalau itu, Aku tidak bisa menjawabnya dengan kata-kata, karena kata-kata hanyalah perantara. Yang memunculkan ketertarikan seseorang dengan orang lain adalah unsur kesesuaian, bukan kata-kata” begitu jawab Viki. Dua temannya mengangguk, tidak dengan Aulia, ia terus bertanya “Tapi kamu telah menolak beberapa wanita yang orang-orang tawarkan kepadamu.”

“Kawan, seharusnya aku tidak perlu menceritakan ini, . . . di masa Qaisy alias Majnun hidup, banyak wanita cantik saat itu, tapi apa? pandangan Majnun hanya tertuju pada Laila. Bahkan sampai-sampai seorang Raja memperlihatkan wanita-wanita cantik di hadapannya lalu berkata ‘Angkat kepalamu dan lihatlah!’ Namun lihat apa yang Majnun lakukan. Ia menjawab, ‘Aku takut. Rinduku kepada Laila bagaikan pedang terhunus. Jika aku angkat kepalaku, pedang itu akan memenggal leherku’ Semua perempuan yang ada di hadapannya sama-sama memiliki mata, bibir, dan hidung. Lalu apa yang ia lihat pada Laila hingga membuatnya terjatuh dalam kondisi seperti itu?”

“Oke, lalu apa yang kamu harapkan dari semua ini, Vik?” tanya temannya yang lain. “Tolong doakan saja aku, agar tidak gila seperti Majnun,” senyuman mekar dibibirnya.

***

Zahara terus mencari-cari sosok Viki. Sudah tiga bulan ia tidak melihatnya di pintu gerbang. Zahara belum berani mengiriminya pesan.

Siang itu, Zahara dan kak Nisa sedang beri’tikaf di sisi tengah Masjid Khartoum sambil membaca kitab. Keduanya disibukkkan dengan bacaannya masing-masing. Di tengah kesibukankan, Zahara tak sengaja menoleh ke arah pintu masuk dan mendapati Viki berada di sana. ‘Apakah ia sedang bermimpi?’ benaknya berkata. ‘Tidak, itu memang Viki.’ Di ujung sana, Viki terus melangkah, memasuki bagian depan Masjid, lalu shalat. Kini jaraknya sekitar 40 meter dari Zahara.

Selesai shalat Zahara melihatnya membaca al-Quran. Khusyu’ sekali. Pandangan Zahara tersita sejenak melihat Viki. Lalu ia mengiriminya pesan,

‘Ustadz dimana?’
‘Ini sedang bareng teman di Kafe,’ seketika balasan Viki mendarat di Hpnya.
‘Jangan bohong! Zahara di shaf belakang, sedang lihat ustadz ngaji di shaf depan.’

Zahara melihat Viki sedang menoleh ke belakang, mencari-cari sosoknya. Lalu ia bangkit. Sepertinya Viki sudah menemukan titik koordinat Zahara. Dengan perasaan malu, Ia bangkit dari duduknya dan menuju mendekati posisi Zahara.

Setelah salam Zahara tersenyum, “Kenapa mesti bohong?”        
“Maaf, ana khilaf,” hanya itu kata yang layak ia utarakan, “Zahara, ana ingin sampaikan sesuatu. Boleh Ana ke rumahmu malam lusa?”
“Lusa? Sendirian?”
“Iya, setelah Isya, bersama teman.”
“Boleh,” jawabnya setelah mendapat persetujuan dari kak Nisa.
“Sampai bertemu lusa,” Viki berlalu begitu saja meninggalkan mereka dan keluar dari Masjid.

Malam yang dinanti pun tiba, tepat pukul 9, Viki mengabari Zahara bahwa dia sudah di gerbang. Zahara mempersilahkannya masuk ke rumah. Viki bertiga dengan kawannya pun masuk.
Oleh : Raystaycool 

Zahara menghidangkan mereka kue dan minuman. Setelah menyantapnya sedikit, Viki mulai berbicara, “Zahara, maksud kunjungan ini, masih seperti biasa. Ada hadiah yang ingin Ana berikan. Seketika wajah Zahara berubah, antara kesal dan gelisah, sambil menunggu susunan kalimat Viki berikutnya.

“Begini, Ana akan pulang ke Aceh bulan depan, dan ana sudah membeli dua tiket. Yang satunya untuk Zahara. Ini tiketnya.” Viki meletakkan tiket atas nama Zahara tepat di depannya. Tangannya sedikit bergetar. “Kalau Zahara menolaknya, berarti tiket itu akan hangus. Namun kalau Zahara menerimanya, berarti kita akan pulang bersama untuk menikah.” Ketika itu atmosfit ruangan berguncang. Selanjutnya suasana hening. Teman-teman Viki tertunduk menyandarkan dagunya ke tangan yang di tegakkan. Begitu juga dengan Nisa, ia kaget, terlihat dari raut wajahnya. Lalu menoleh ke Zahara. Memandangnya. Pandangan Zahara fokus ke arah tiket di hadapannya. Ia membaca tulisan yang tertera di lembaran itu. Terdiam, membisu.

Keheningan terus berlanjut. Beberapa detik berikutnya Viki berbicara, “Semoga Zahara berkenan. Kami izin pulang dulu ya. Assalamu’alaikum.” Dengan langkah perlahan mereka meninggalkan rumah Zahara. Malam itu penuh gelora. Nalar insan mengalahkan hati. Karena hati memiliki nalarnya sendiri, sedangkan nalar tidak memiliki hati. Semalam, dua malam, Viki tidak mendapat kabar apa pun dari Zahara. Ia masih menunggu dan terus menunggu jawaban darinya. Hingga setelah dua minggu berlalu, Viki mendapatkan pesan.

“Assalamu’alaikum, maaf ustadz telah membuat lama menunggu. Selama dua minggu ini, ana istikharah, memohon petunjuk Allah. Dan jawabannya."

'Jawabannya apa?' Viki penasaran. Pesannya tidak diselesaikan. Ia segera menelpon Zahara. Ketika keduanya telah terhubung melalui saluran telepon, Viki bertanya "Jawabannya apa Zahara?"

"Tidak semua pertanyaan itu butuh jawaban." Jawaban dari seberang.
"Tapi, aku ingin mendengar langsung jawaban itu dari mulutmu, Zahara!"
Beberapa waktu sunyi, sampai Viki mendapatkan jawaban terindah, "Zahara bersedia menerima tiket itu.” Suaranya lembut, begitu halus. Layaknya suara burung bul-bul yang digambarkan oleh penyair al-Asyma'i dari karya fenomenalnya, syair bul-buly. Dan tak ada lagi kata yang terucap setelah itu.